Sharing Session Alumni: Berkarir di Jepang

Jepang merupakan salah satu negara maju di dunia. Merek-merek terkenal yang beredar di indrustri umumnya berasal dari Negeri Matahari Terbit ini. Tak dipungkiri lagi, banyak orang yang ingin mengunjungi negara ini, entah itu untuk tujuan wisata, belajar, maupun bekerja. Begitu pula dengan alumni Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika (DTNTF), Dian Nandi Wardhana dan Dwi Joko Suroso, keduanya sedang menjajaki kehidupan mereka di Jepang.

Sharing session yang diadakan pada hari Rabu, 15 Agustus 201 di ruang TN 1 DTNTF ini membahas tentang karir keduanya di Jepang. Nandi, yang bekerja di ShinMaywa Industries, Ltd dan Joko yang sedang melanjutkan doktoral degree-nya di Tokyo Institute of Technology menyampaikan kiat-kiat belajar dan bekerja di sana.

Nandi mulai bekerja di Jepang sekitar tahun 2010, atas usulan koleganya, dan IPK 2,74 yang didapatnya, ia memberanikan diri mendaftar di salah satu perusahaan yang terletak di kota kecil di Jepang. Beruntungnya, perusahaan tersebut terdiri dari banyak karyawan asing sehingga tidak membebankannya dalam hal bahasa. Namun, Nandi terus belajar bahasa Jepang hingga di tahun 2017 berhasil mendapat sertifikasi JLPT N3. Sekarang, ia sudah pindah ke induk perusahaan di kota yang lebih besar, Osaka.

Menurut Nandi, hal yang paling penting adalah soft skill yang kita miliki, khusunya di dunia industri, agar nantinya saat bekerja, tidak kaget dalam menangani pekerjaan. Saat itu, Nandi memang mahir bekerja dengan software dan program yang sedang digandrungi pada tahunnya, sehingga memudahkan ia menawarkan skill-nya tersebut kepada perusahaan.

Tentunya, kesuksesan seseorang tidak serta-merta terjadi begitu saja. Nandi menyampaikan bahwa sebagai mahasiswa, kita harus mencari motivasi untuk diri sendiri, dan harus memikirkan ingin jadi apa setelah lulus. Kembali lagi, skill adalah keharusan. Pelajari skill apapun yang ingin kita dalami, entah itu berguna atau tidak, tetap pelajari, agar menambah wawasan. Contohnya saja, communication skill, software skill, presentation skill, programming skill, dan lain sebagainya. Dan tentunya, jangan berhenti belajar. “Love what you do,” pesannya.

Berbeda dengan Nandi, Joko lebih memilih untuk melanjutkan studinya di Jepang. Ia mendapatkan beasiswa Monbukagakusho dari pemerintah Jepang. Ia juga merupakan seorang dosen baru (2017) DTNTF. Menurutnya, banyak sekali beasiswa yang bisa didapat untuk melanjutkan studi ke Jepang, diantaranya; dari Ajinomoto, Hitachi, Tanoto Foundation, pemerintah Jepang (MEXT), JPSS, LPDP, dan lain sebagainya.

Syarat utama untuk mendapatkan beasiswa adalah kecakapan dalam bidang akademik, tentunya dengan nilai yang bagus. Selain itu, bidang riset juga sangan dipertimbangkan. Dan karena kita akan belajar di negara asing, maka bahasa juga harus dipelajari.

Joko juga menyampaikan tips-tips untuk mendapatkan beasiswa, diantaranya; optimis, berani bermimpi dan menuliskan mimpi, niat, belajar, usaha dan doa. Setelah itu, mulailah mencari informasi beasiswa sebanyak-banyaknya, negara mana yang ingin dituju, bahasa apa yang digunakan, bidang riset apa yang ingin dikaji, carilah sesuai yang diinginkan. Setelah mendaftar, maka jangan lupa selalu meminta doa restu orang tua, dan berbuat baik kepada siapapun. Jika nantinya sudah diterima, maka harus kuatkan mental dan tekad, serta hargai waktu, karena di luar negeri sana, waktu sangantlah berharga.

Lama tinggal di Jepang, membuat Joko menyadari beberapa hal, bahwa orang Jepang itu disiplin dan pekerja keras, sensei (dosen) nya berisik dan galak sudah biasa, kultur dan komunikasi yang berbeda, dan selalu tepat waktu dalam segala hal. Di Jepang juga Joko menyarankan untuk berteman sebanyak-banyaknya, “karena banyak yang tiba-tiba hilang dan stress,” katanya.

 

–Nazhiefah Dalilla